Bertandang ke Sumbok Rayeuk, Aceh Utara, Alta telah membikin sedikit kehebohan. Itu bermula dari kulitnya yang jika dipandang sekilas memancarkan nuansa warna oranye. “Leumah empedu,” tuduh tabib. Tuduhan tabib itu berbahasa Aceh, meskipun saya sendiri yang orang Aceh enggak tahu artinya. Muhammad Alta, begitulah nama lengkap lelaki yang kegiatan seharinya-harinya melingkupi pencermatan terhadap kucing, ayam,… [Read more…]
Saya pernah dengar orang-orang berkata bahwa orang bahagia adalah orang yang mencintai pekerjaannya. Sepanjang hidup saya, ada dua orang yang saya identifikasi mencintai pekerjaan mereka yaitu Sufyan dan Zainal. Kedua-duanya sekarang berada di luar Aceh. Di samping mencintai isteri dan anak-anak, mereka berselingkuh dengan truk. Perselingkuhan itu dilakukan secara terang-terangan dengan cara menempel poster-poster truk… [Read more…]
Sendiri di Blackjack Coffee, mengambil meja di ruangan sisi belakang, penglihatan saya menemukan gedung Museum Tsunami. Penglihatan itu tiba-tiba mengingatkan saya akan suatu kejadian setahun lalu. Waktu itu saya sama si Peter Holtsberg lagi meluncur dari kota ke arah Geuceu. Kaca mobil dinaikkan sampai rapat karena di luar banyak debu, bukan karena kepala si Peter… [Read more…]
Gara-gara mengomentari postingan Kreh Kroh, si Mala nyaris jadi monster. Itu mendingan. Ketimbang saya, bukan nyaris lagi, tapi pernah langsung jadi monster siap mengomentari postingan seseorang di wordpress. Saya juga menemukan monster-monster lain bermunculan pada kotak komentar-nya wordpress: ada yg garuk-garuk hidung; ada yang nungging; ada yang nyeringai; dan macam-macam. Kami para komentator malang itu… [Read more…]
Dalam hal musik, saya keras kepala. Jika lagi menyukai karya seseorang pemusik, maka sampai berminggu-minggu saya mendengar musik yang bersangkutan saja, enggak campur-campur dengan yang lain. Sampaipun warna khas musik bersangkutan meresap hingga ke sum-sum tulang. Sampaipun segerombolan sel dalam otak, secara tak terkendali, terus memutar musik tersebut meski headset sudah lepas dari kuping.
Kreh-kroh adalah kata keterangan, dalam bahasa Aceh berarti berisik, enggak bisa diam, gaduh, dan lain-lain. Keterangan kreh-kroh biasanya disematkan pada suatu benda maupun seseorang. Seperti pabrik yang baru teridentifikasi kebisingannya jika dipindahkan ke hutan, maka sesuatu atau seseoarang, baru teridentifikasi keberisikannya jika berada pada suatu tempat yang diharapkan hening serta tak ada banyak gerakan.
April 1, 2011
15